Weton, Sering Digunakan Untuk Meramal Jodoh Khususnya Orang Jawa


Istilah weton seringkali digunakan untuk menunjuk ramalan yang berasal dari kebudayaan Jawa. Atau, weton terdengar akrab ketika sepasang muda-mudi berencana ingin menikah, entah dengan sesama orang Jawa ataupun salah satunya.

Padahal, hakikatnya weton adalah perayaan hari kelahiran berdasarkan hitungan hari dalam kalender Jawa. Dalam kalender Jawa, satu pekan terdiri dari tujuh hari yang diadopsi dari kalender Islam dan lima hari pasaran Jawa. Weton, adalah gabungan keduanya yang menunjukkan hari kelahiran seseorang.

"Saya rasa weton ini adanya di Jawa dan Bali. Tidak tahu ya kalau di daerah lain seperti apa, tetapi yang ada weton ya di dua tempat itu," kata Eyang Ratih, praktisi primbon atau ramalan Jawa.

Ketika Mataram berdiri bersamaan dengan masuknya Islam, maka dimulailah penyusunan penanggalan resmi yang menggabungkan kalender Saka, kalender Islam, dan kalender Julian yang dibawa oleh penjajah dari Barat saat itu. Gabungan itulah yang dianggap saat ini sebagai kalender Jawa.

Hingga kini, kalender Jawa terdiri dari tujuh hari mulai Ahad hingga Sabtu; lima hari pasaran; rata-rata 30 hari dalam sebulan; 12 bulan setahun yang bernama serapan campuran dari bahasa Arab, Sansekerta, dan Melayu. Meski satu bulan rata-rata 30 hari, perayaan weton terdiri setiap 35 hari sekali karena kombinasi siklus tujuh hari biasa dan siklus lima hari pasaran atau yang disebut pancawara.

Pancawara atau siklus hari pasaran adalah putaran lima hari pasaran, yaitu Paing, Pon, Wage, Kliwon, dan Legi. Kelima hari ini digunakan oleh masyarakat Jawa sebagai tanda berlangsungnya pasar di hari-hari tertentu, misal pasar yang dilakukan setiap hari Kliwon disebut Pasar Kliwon.

Mulai Dijadikan Ramalan

Sistem penanggalan inilah yang biasa digunakan olah masyarakat Jawa bukan hanya menandakan hari lahirnya seseorang, tetapi mulai dari menentukan masa tanam dan panen, bepergian, menentukan suatu keputusan, bahkan hingga dipercaya dapat menggambarkan karakter ataupun nasib.

"Orang zaman dahulu bisa melihat perawakan seseorang ketika baru pertama kali keluar rahim, tinggal dilihat wetonnya saat itu dan bisa ditebak karakter anaknya nanti," kata Tuti, nama asli Eyang Ratih.

Beragam 'pakem' dalam penghitungan serta penafsiran dari weton sudah mengakar begitu dalam. Beragam metode, rumus, ketentuan, entah formula lainnya diyakini dari generasi ke generasi memiliki makna untuk menjadi tuntunan ataupun peringatan bagi yang mempercayainya.

Misal, seseorang yang dilahirkan di hari Sabtu, dipercaya memiliki sifat sombong. Bila seseorang memiliki weton Kliwon, dipercaya memiliki bakat di bidang spiritual karena pasaran itu dianggap keramat atau suci.

Masyarakat yang masih menerapkan weton pun akan memiliki tradisi-tradisi khusus, seperti perayaan weton setiap 35 hari sekali dengan bubur pancawarna atau lima warna, yaitu hitam, putih, merah, kuning, dan hijau.

Saat ini pun beragam penghitungan dengan weton bermunculan, salah satunya seperti meramal kecocokan jodoh dengan weton. Biasanya penghitungan ini baru dikeluarkan ketika sepasang muda-mudi memutuskan untuk menikah. Para orang tua dan sepuh yang masih mempercayai weton, akan menghitung jumlah weton keduanya.

Bila menghasilkan makna yang bagus, maka selanjutnya para orang tua akan menghitung weton untuk hari pernikahan. Tapi bila hasil weton kecocokan jodoh bermakna negatif, sang calon harus bersiap untuk mengganti pasangan hingga menemukan hasil hitung weton yang dinilai 'aman'.

Bila melanggar, bersiaplah menerima protes, cercaan, hingga pengucilan. Hal ini kadang terjadi di beberapa masyarakat Jawa yang masih kental adat istiadatnya.

"Kalau meramal kebanyakan melihat karakter, dan semua itu sudah ada pakemnya. Kami meramal itu ada pakem-pakemnya, meski dibilang ramalan tapi itu ada mirip-miripnya. Pasti ada," kata praktisi yang sudah berkecimpung selama 24 tahun ini.

"Saya juga dahulu biasa diminta untuk menebak nomor togel. Sampai saya dikejar-kejar orang. Namun kini saya sudah tidak menerima permintaan mereka," kata Tuti. "Saya juga tidak memaksa seseorang percaya sama saya, tidak percaya, ya monggo saja,"

Tuti menyadari dengan perkembangan teknologi dan informasi saat ini, siapapun dapat mempelajari primbon dan weton. Hanya dengan berbekal almanak atau penanggalan, dan pakem-pakem yang diketahui, maka masyarakat awam juga dapat mengerti.

Namun, seperti kentalnya filosofi dalam weton, menggunakannya pun haruslah dipahami dengan matang-matang. Karena bagaimana pun, weton merupakan peninggalan leluhur, sama seperti produk kebudayaan lainnya.

"Sekarang itu banyak yang salah kaprah tentang ramalan seperti ini. Seperti yang ditayangkan acara mistik di televisi, itu hanya demi rating. Saya ini kan sifatnya menerima yang seperti ini dari leluhur, dan sebagai penerus sudah seharusnya menjaga dan melestarikan,” katanya

0 komentar

Post a Comment