Rupiah Menguat, Menjadi Mata Uang Terbaik di Asia


Rupiah menunjukkan kinerja positif. Selama periode satu bulan (month-to-month), nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat 3,9 persen. Mengutip data Reuters, Senin (19/11), rupiah pada pukul 11.02 WIB berada pada posisi Rp 14.595. Angka ini menujukkan tren positif setelah beberapa pekan sebelumnya rupiah melemah dan menembus angka Rp 15.200 per dolar AS.

Bila dibandingkan dengan mata uang negara-negara di Asia Tenggara dan Asia lainnya, kinerja rupiah paling cemerlang atau terbaik. Kenaikan nilai tukar rupiah dibuntuti oleh mata uang Filipina, peso yang meningkat 2,05 persen terhadap dolar AS.

Kenaikan mata uang rupiah tak lepas dari kerja keras Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo. Bank Indonesia telah melakukan langkah antisipatif sesuai dengan prediksi kejadian mendatang atau yang dikenal dengan istilah ahead the curve. 

Antisipasi ini dilakukan karena Bank Sentral AS (the Fed) berencana menaikkan kembali suku bunganya. Terbaru, paket kebijakan ekonomi ke-16 menjadi 'angin segar' bagi rupiah.

Analis dari Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) Reza Priyambada dalam risetnya menyebutkan, pergerakan rupiah kembali mengalami kenaikan. Masih adanya sentimen positif dari dalam negeri membuat rupiah mampu untuk kembali melanjutkan pergerakan positifnya. 

Pascadiumumkannya kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) menjadi 6 persen atau naik 25 bps di mana bertujuan untuk menyelamatkan defisit transaksi berjalan pergerakan rupiah sudah terlihat menguat. Bahkan kali ini mendapat sentimen positif dari dirilisnya Paket Kebijakan ke-16 oleh Pemerintah yang di antaranya berisikan perluasan industri yang mendapatkan fasilitas tax holiday. 

Pelaku pasar merespons positif karena nantinya diasumsikan dapat mendorong sejumlah industri berkembang yang pada akhirnya dapat meningkatkan investasi dan perolehan pajak sehingga pertumbuhan ekonomi dapat meningkat. 

Sri Mulyani: Rupiah Menguat karena Sentimen Global Membaik
Menteri Keuangan Sri Mulyani menilai, hal ini terjadi lantaran dinamika sentimen global yang sedang membaik. 
"Kita 'kan selalu melihat bahwa dinamika ekonomi global merupakan faktor yang harus kita kelola, kadang-kadang sentimennya membaik," ujar Sri  Mulyani di sela-sela forum internasional bertajuk World Conference on Creative Economy (WCEE) di Bali Nusa Dua Convention Center, Rabu (7/11).

Selain kurs yang membaik, Sri Mulyani juga menyebutkan, Indonesia merupakan salah satu negara emerging market yang memiliki pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen. 
"Inflasinya rendah, fiskal defisitnya rendah, sangat progresif, policy-nya sangat progresif, structure policy untuk investasinya juga ambisius," tutur Sri Mulyani. 

Dia memastikan, pemerintah akan terus berkoordinasi dengan Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Sehingga, kata dia, dunia global akan melihat bahwa Indonesia memiliki sentimen yang terus bergerak positif. 
"Tapi bukan berarti kita mengatakan pas lagi bagus (rupiah), kita ngaku, pas lagi enggak bagus, kita enggak ngaku. Kita akan terus menjaga saja," ungkapnya. 

Berikut Ini Pergerakan Mata Uang di Asia selama 1 Bulan (Month-to-Month):
Rupiah: menguat 3,9 persen
Ringgit Malaysia: melemah 0,74 persen
Dolar Singapura: menguat 0,35 persen
Bath Thailand: melemah 1,07 persen
Peso Filipina: menguat 2,05 persen
Dolar Brunei: menguat 0,33 persen
RMB China: melemah 0,17 persen
Yen Jepang: melemah 0,08 persen
Rupee India: menguat 1,9 persen
Won Korea: menguat 0,38 persen
Dolar Hong Kong: menguat 0,12 persen

0 komentar

Post a Comment