Kemarau Kepanjangan, Dibeberapa Desa Wilayah Ponorogo Krisis Air


Krisis air bersih yang dialami desa di Ponorogo, makin memprihatinkan. Sumber air yang keluar pun tinggal sedikit. Warga Desa Tumpuk, Kecamatan Sawoo, terpaksa antre mendapatkan air bersih sembari membawa jerigen.

Warga yang mengalami kekeringan sejak 2 bulan rela mengantre sejak pagi demi mendapatkan air bersih.

"Saya antre dari jam 13.30 WIB baru dapat air pukul 17.00 WIB. Itupun cuma 2 jerigen dapatnya," tutur Katirah (43) kepada wartawan saat ditemui di lokasi, Rabu (20/10/2018).

Katirah mengaku dirinya rela berjalan 2 kilometer dari rumahnya dan antri berjam-jam demi bisa mendapatkan air. Apalagi Sumber Air Tapas tinggal satu-satunya yang tersisa di desanya.

"Kami pun sering tidak mandi demi menghemat air," keluhnya.

Menurutnya, dari pada membuang air untuk mandi lebih baik dipergunakan untuk memasak. Kekeringan yang dialami desanya ini baru pertama kali terjadi.

"Mungkin karena kemarau panjang, kami jadi harus antre air," jelasnya.

Hal senda diungkapkan warga lain, Sakur (36). Dia bersama 180-an warga sudah merasakan kekeringan sejak 2 bulan lalu. Dan satu-satunya sumber air yang mengalir hanya Sumber Air Tapas.

"Ini pun keluarnya cuma 0,5 liter per detik," imbuh dia.

Sementara Kades Tumpuk Murniyati sudah mengupayakan pengiriman air bersih dari BPBD. Namun hingga saat ini belum ada kelanjutan dari permintaannya tersebut.

"Katanya masih mau survei dulu kesini, nanti hasilnya seperti apa kita lihat. Kemungkinan besar ya dikirim karena lihat warga kami yang kesulitan air bersih," tukasnya.

Ia pun berharap musim kemarau panjang ini segera berakhir dan warganya tidak perlu lagi mengantre untuk mendapatkan air bersih. "Warga itu antre biasanya 2-5 jam demi mendapatkan air," pungkasnya. 

0 komentar

Post a Comment