Misteri Gunung Agung Bali

Foto@ @emocean.one

Gunung Agung merupakan salah satu gunung aktif di Indonesia yang berada di Bali. Bahkan gunung ini terakhir meletus di bulan November 2017 kemarin. Namun gunung yang satu ini tidak pernah sepi akan pendaki karena memang menawarkan keindahan yang luar biasa. Sama halnya dengan gunung lainnya, Gunung Agung juga memiliki misteri dan mitos di dalamnya. Berikut ini beberapa misteri Gunung Agung yang tidak boleh terlewatkan.

  • Pendaki harus ditemani orang suci

Gunung Agung adalah gunung yang dianggap suci oleh masyarakat Bali, maka tidak sembarangan orang bisa menjelahi tanpa ijin. Jika hal tersebut dilakukan maka petaka akan datang. Maka dari itu, saat mendaki harus ditemani orang suci. Selain itu, wanita yang sedang haid juga dilarang mendaki.
  • Jumlah makanan harus genap

Sama halnya dengan Gunung Lawu, Gunung Agung juga memiliki aturan tidak boleh membawa barang atau makanan dengan jumlah ganjil. Bahkan pendaki juga tidak boleh ganjil, sebab akan ada yang mati satu atau diikuti makhluk halus untuk menggenapkan jumlahnya. Namun misteri Gunung Agung membawa makanan ganjil masih menjadi mitos yang dipercaya masyarakat Bali hingga saat ini. Kemungkinan makanan ganjil akan mengundang makhluk halu atau makanan tersebut bisa hilang.
  • Kera putih

Di dalam ajaran Hindu, kera putik identik dengan Anoman. Di Bali sendiri, kera putih dianggap sakral oleh penduduk sekitar. Pasalnya dalam ajaran hindu percaya bahwa kera putih adalah utusan Ida Batara yang bertugas menjaga Gunung Agung. Konon katanya, kera putih akan menampakkan dirinya saat Gunung Agung akan meletus.
Kera putih atau disebut dengan bojong putih ini juga kerap menampakkan diri saat hari – hari besar atau keagamaan, seperti ritual karya pujawali di Pura Pasar Agung. Jika hal tersebut terjadi maka merupakan pertanda yang baik. Beberapa pemangku ritual dan pendaki bisa melihat penampakan dari kera putih ini.
  • Larangan menggunakan baju merah dan hijau

Gunung Agung memiliki larangan untuk mengenakan baju merah atau hijau saat mendaki. Hal ini sama saat pergi ke pantai selatan. Jika di pantai selatan, warna hijau merupakan warna kesukaan Nyi Roro Kidul, namun berbeda di Gunung Agung. Konon, gunung dan laut merupakan simbol dari suami dan istri. Dan memiliki kaitan suatu malapetaka. Sedangkan warna merah merupakan warna kesukaan penunggu di gunung tersebut. 
  • Larangan membawa daging sapi

Masyarakat beragama hindu memang menghindari mengonsumsi daging sapi. Pasalnya, sapi merupakan hewan mulia. Menurut kepercayaan sapi merupakan simbol kesejahteraan semua makhluk hidup seperti ajaran dari dewa Krisna. Maka dari itu, mereka dilarang menyembelih bahkan memakan daging sapi.
Hal inilah jugalah yang tidak boleh dibawa saat mendaki Gunung Agung. Pasalnya akan membuat penunggu dan dewa – dewa di Gunung Agung murka. Terlebih lagi, di lereng terdapat pura Besakih. Jadi pastikan saat ingin mendaki, pastikan makanan yang dibawa mengandung sapi atau tidak.
  • Mata air suci

Mata air suci bisa ditemukan di jalur pendakian dari Pura Besakih. Mata air ini sangat jernih dan anggap suci oleh penduduk sekitar. Pendaki tidak bisa langsung mengambil atau meminumnya. Jika ingin mengambil atau meminumnya, mereka harus bersembahyang menurut ajaran Hindu. Jika hal ini dilanggar maka bisa membawa malapetaka atau air yang diminum menjadi sumber penyakit.
  • Anjing penuntun


Beberapa pendaki mungkin sering menemui segerombolan anjing yang senang mengikuti pendaki. Bahkan seakan – akan anjing ini merupakan penuntun para pendaki menuju puncak Gunung Agung. Ada cerita, pendaki yang diselamatkan oleh anjing berwarna hitam dan putih saat tersesat dan kembali ke jalur yang benar. 

0 komentar

Post a Comment